MENGAPA RAGU MENGIKUTI MANHAJ SALAF ?

Posted: 18 Mei 2009 in Manhaj

Oleh Al-Ustadz Abdullah Taslim, Lc dikutip dari ibnuramadan.wordpress.com

Manhaj

Manhaj

Manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj (metode pemahaman) yang diakui kebenarnnya oleh Allah dan Rasul-Nya. Manhaj ini mengajarkan pemahaman dan pengamalan Islam secara lengkap dan menyeluruh, dengan tetap menitikberatkan pada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan.

Berpegang pada manhaj salaf dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman, ”Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) dari (kalangan) orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Dalam ayat lain, Allah memuji keimanan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya,

“ dan jika mereka beriman seperti kemimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar) dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)….” (al-Baqarah: 137).

Dalam hadits sahih tentang perpecahan umat menjadi 73 golongn, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Semua golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah”. Dalam riwayat lain: ”Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku dan petunjuk pada sahabatku”. [1]

Dari itu, mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat. Hanya dengan mengikuti manhaj inilah bisa diraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah janjikan dalam agamaNya. Hal ini seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

”Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat), kemudia generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka”. [2]

Menjelaskan makna hadits tersebut Imam Ibnul Qayyim berkata, ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan (dalam hadits ini) bahwa generasi yang terbaik secara mutlak[3] adalah generasi di masa beliau (para sahabat). Ini membawa peringatan akan keunggulan mereka dalam seluruh aspek kebaikan (dalam agama ini), karena kalau kebaikan mereka (hanya) dalam sebagian aspek (tidak sempurna dan menyeluruh) tentu tidak akan disebut (oleh Nabi sebagai) generasi yang terbaik secara mutlak.[4]

Beberapa hal dibawah ini menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan yang bisa dicapai dengan berusaha memahami dan mengamalkan manhaj salaf secara baik dan benar. Tampak pula kemustahilan mencapai semua itu dengan mengikuti selain manhaj yang benar ini.

1. Keteguhan iman dan istiqomah dalam agama di dunia dan akhirat

Allah berfirman,

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki”.(Ibrahim: 27)

Makna ucapan yang teguh dalam ayat diatas ditafsirkan oleh Rasulullah dalam hadits sahih yang dir iwayatkan oleh sahabat yang mulia al-Bara’ bin ’Azib, bersabda,

”Seorang muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah) dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya: {Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat}”. [5]

Ayat dan hadits ini menunjukkan bahwa keteguhan iman dan keistiqomahan dalam agama hanyalah Allah anugerahkan kepada orang beriman yang memiliki ucapan yang teguh, yaitu du kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan baik dan benar.

Dari itu, tampak salah satu keutamaan dan manfaat besar mengikuti manhaj salaf, karena tidak diragukan lagi hanya manhaj salafiyah satu-satunya manhaj yang benar-benar memberikan perhatian besar kepada pemahaman dan pengamalan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar, dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang kalimat Tauhid (La Ilaha Illallah), keutamaannya, kandungannnya, syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang membatalkan dan mengurangi kesempurnaannya disertai peringatan keras untuk menjauhi perbuatan syirik dan semua perbuatan yang bertentangan dengan tauhid.

Demikian pula perhatian besar manhaj salaf terhadap kalimat syahadat (Muhammadur Rasulullah), dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang keindahan dan kesempurnaan Sunnah Rasulullah, disertai peringatan keras untuk me njauhi pe rbuatan bid’ah dan semua perbuatan yang bertentangan dengan Sunnah.

2. Meraih kenikmatan tertinggi di Surga

Dalam hadits sahih dari seorang sahabat yang mulia Shuhaib bin Sinan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Berfirman, ’Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Mereka menjawab, ’Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Maka Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia). Penghuni surga tidak pernah mendapatkan sesuatu yang lebih mereka sukai dibanding melihat (wajah) Allah’. Kemudian Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat berikut:

”Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya[melihat wajah Allah]. (Yunus:26). [7]

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab beliau ”Ighatsatul Lahafan”[8] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, ke cintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan dzikir kepada-Nya. Beliau menjelaskan hal ini be rdasarkan lafal doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang sahih,

”Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk mertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)..”. [9]

Dari keterangan di atas juga terlihat jelas besarnya keutamaan dan manfaat mengikuti manhaj salaf. Karena kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah merupakan buah yang paling utama dari ma’rifatullah (pengenalan/pengetahuan yang benar dan sempurna tentang Allah dan sifat-sifat-Nya), yang mana ma’rifatullah yang benar dan sempurna tidak akan mungkin dicapai kecuali mempelajari dan memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah dalam al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan metode pemahaman yang benar, yang ini semua hanya didapat dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah/manhaj Salaf.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata ”Ini adalah ideologi golongan yang selamat dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah sampai hari kiamat, (yang mereka adalah) Ahlus Sunnah wal Jama’ah (orang-orang yang mengikuti manhaj salaf), yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya (hari) kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk. Termasuk iman kepada Allah (yang diyakini Ahlus Sunnah wal Jama’ah) adalah mengimani sifat-sifat Allah yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam al-Qur’an dan yang ditetapkan oleh Rasulullah (dalam hadits-hadits yang shahih), tanpa tahrif menyelewengkan maknanya), tanpa ta’thil (menolaknya), tanpa takyif (menanyakan bentuknya, tanpa tamtsil (merupakannya dengan sifat-sifat makhluk). Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah,

”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat” (Al-Syura: 11).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak menolak sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tidak menyelewengkan makna firman-Nya dari arti yang sebenarnya, tidak menyimpang (dari kebenaran) dalam (menetapkan) nama-nama Allah (Yang Maha Indah) dan dalam (memahami) ayat-ayat-Nya. Mereka tidak menanyakan bentuk sifat Allah dan tidak menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk. Karena Allah tiada yang serupa, setara dan sebanding dengan-Nya, Dia tidak boleh dianalogikan dengan makhluk-Nya, dan Dia-lah yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang makhluk-Nya, serta Dia-lah yang paling benar dan baik perkataan-Nya dibanding (semua) makhluk-Nya. Kemudian (setelah itu) para Rasul-Nya orang-orang yang benar (ucapannya) dan dibenarkan, berbeda dengan orang-orang yang berkata tentang Allah tanpa pengetahuan. Oleh karena itulah Allah ber firman,

”Maha suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. dan Kesejahteraan dilimpahkan atas Para rasul. dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam”.(Al-Ahaffat: 180-182).

Dalam ayat ini Allah menyucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan orang-orang yang menyelisihi (petunjuk) para Rasul, kemudian Allah menyampaikan salam (keselamatan) kepada para Rasul karena selamat (suci)nya ucapan yang mereka sampaikan dari kekurangan dan celaan. Allah telah menghimpun antara nafyu (meniadakan sifat-sifat buruk) dan itsbat (menetapkan sifat-sifat yang maha baik dan sempurna) dalam semua nama dan sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah sama sekali tidak menyimpang dari petunjuk yang dibawa oleh para Rasul, karena itulah jalan yang lurus; jalannya orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu para Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. [10]

3. Menggapai taufik dari Allah yang merupakan kunci pokok segala kebaikan

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, ”Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki tidak akan terjadi. Pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita lakukan) adalah dari nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberikan kemudahan kepada kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dari kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelak yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri. Telah bersepakat ’Arifun (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah taufik dari Allah kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua keburukan ada;ah khidzian (berpalingnya) Allah dari hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (arti) taufiq itu adalah dengan Allah tidak menyandarkan (urusan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya arti) khidzian (berpalingnya Allah dari hamba) adalah dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah)[11]…”.[12]

Dari keterangan Imam Ibnul Qayyim d atas jelaslah bahwa kunci pokok segala kebaikan adalah memahami dan mengimani apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki pun tidak akan terjadi. Inilah simpulan makna iman kepada taqdir Allah yang baik maupun yang buruk. Sekali lagi, ini menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mengikuti manhaj salaf. Untuk lebih jelasnya baca keterangan Ibnu Taimiyyah dalam ”Al-Aqidatul Wasithiyyah” (hal.22) tentang lur usnya pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah iman kepada takdir Allah dan sesatnya pemahaman-pemahaman lain yang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

4. Mendapatkan semua kemuliaan yang Allah sediakan di akkhirat.

Imam Ibnu Katsir, ketika menjelaskan kewajiban mengimani keberadaan Al-Haudh (telaga milik Easulullah di akhirat kelak) yang merupakan bagian dari iman kepada hari akhir, berkata, ”Penjelasan tentang telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam –semoga Alah memudahkan keta meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat- (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang berkeras kepada menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini. Mereka inilah yang paling terancam untuk dihalangi (diusir) dari telaga tersebut (pada hari kiamat)[13], sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf, Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut..”.[14]

Ucapan yang dinukil ileh Imam Ibnu Katsir ini menunjukkan bahwa semua kemuliaan yang Allah sediakan di akhirat, seperti kenikmatan di alam kubur, meminum dari telaga Rasulullah, mendapatkan syafa’at Rasulullah dan orang-orang yang diizinkan Allah untuk memberikan syafa’at, bahkan termasuk dalam hal ini kenikmatan di dalam surga, hanyalah Allah anugerahkan kepada orang-orang yang tidak mengingkari, justru mengimaninya dengan benar.

Itu hanya sekelumit contoh besarnya manfaat dan keutamaan yang bisa diraih di dunia dan akhirat dengan mengikuti manhaj salaf. Tidak memungkinkan untuk menyebutkan semuanya. Alangkah indahnya ucapan seorang penyair yang berkata,

Semua kebaikan (hanya dapat dicapai) dengan mengikuti (manhaj) salaf

Dan semua keburukan ada pada perbuatan bid’ah orang-orang khalaf. [15]

Ditulis oleh Ustadz Abdullah bin Taslim (Irwan Sofyan) al-Buthoni di Kota Nabi 5 Dzulqa’dah 1429 H untuk Fatwa atas kebaikan al-Ustadz Sa’id. Dengan perubahan dari redaksi.

Dipublikasikan oleh : ibnuramadan.wordpress.com

___________________________________________________________________________________________

Catatan

1. Hadits Ahmad Abu Daud Al-Darimi dan imam-imam lainnya, disahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Al-Syathibi dan Syaikh Al-Albani. Lihat ”Silsilatul Ahaditsish Shahihah no. 204.
2. Hadits sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim
3. Artinya kebaikan yang ada pada mereka adalah kebaikan yang sempurna dan menyeluruh pada semua aspek kebaikan dalam agama.
4. Kitab ”I’lamul Muwaqqi’in” (4/136- cet. Darul Jil, Berut, 1973).
5. Hadits Al-Bukhari dalam ”Shahih Al-Bukhari” (no. 4422- cet. Dar Ibni Katsir, Beirut, 1407 H). Hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 2871- cet. Dar Ihya-it Turats al-‘Arabi, Bairut).
6. Hadits riwayat Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 181).
7. Hal. 70-71 (Mawaridul Aman, cet. Daar Ibnil Jauzi, Al-Dammam, 1415 H).
8. Untuk lebih jelas pembahasan masalh ini, silahkan baca tulisan kami berjudul “Indahnya Islam Manisnya Iman”. Dalam sebuah ucapannya yang tersohor Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya di dunia ini ada jannah (surga), barang siapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti” (Al Waabilush shayib 1/69).
9. Al-Nasai dalam “Al-Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al-Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shaihnya” (No.1971) dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” (no.1900), disahihkan oleh Ibnu Hibban, AL-Hakim, disepakati oleh Al-Dzahabi dan Syaikh Al-Albani dalam “Zhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah” (no.424).
10. Kitab “Al-‘Aqidatul Wasithitiyyah” (hal. 6-8).
11. Oleh karena itu Rasulullah berlindung dari hal ini dalam doa beliau yang terkenal dan termasuk doa yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan petang: “..(Ya Allah) jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun Cuma) sekejap mata” (Al-Nasa-I dalam “Al-Sunan” (6/147) dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” (no.2000), disahihkan oleh Al-Hakim, disepakati oleh al-Dzahabi dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam “Silsilatul Ahaditsish Shahihah” (1/449, no.227).
12. Kitab “Al-Fawa-id” (hal. 133- cet Muassasah Ummil Qura, Mesir 1424H).
13. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Shahih riwayat Imam Al-Bukhari (no.6211) dan Muslim (no.2304) dari Anas bin Malik.
14. Kitab “Al-Nihayah fil Fitani wal Malahim” (hal.127)
15. Mereka adalah orang-orang yang menyelisihi manhaj salaf.

Komentar
  1. Dedhy Kasamuddin mengatakan:

    Assalamu ‘alaikum akhi, demi menjalin silaturahmi sesama Blogger marilah kita saling bertukar link, gimana akhi?? Salam kenal yah dari Dedhy Kasamuddin😀
    ana juga seorang salafy di Kota Palopo SULSEL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s