Posisi Imam Dan Makmum Sholat

Posted: 19 Mei 2009 in Shalat

posisi-imam-dan-makmum-shalat
View Full-Size Image

Soal:

Assalamu’alaykum. Ana mau tanya, mengenai posisi makmum bila ia sendiri di shaf kedua, apa di tengah, dipojok kiri atau dipojok kanan ? syukron

Jawab:

Wa’alaykumussalam. Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami akan bawakan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.

Beliau pernah ditanya, “Apakah shaf itu dimulai dari sebelah kanan atau tepat dibelakang imam ? Apakah disyariatkan harus seimbang antara shaf sebelah kanan dengan sebelah kiri ? Sebab sering dikatakan, “Seimbangkanlah shafnya” sebagaimana yang banyak diucapkan oleh para imam ?”

Beliau rahimahullah menjawab: “Shaf itu dimulai dari tengah yang terdekat dengan imam, dan shaf sebelah kanan lebih utama daripada shaf sebelah kiri, kemudian yang wajib adalah tidak dimulai shaf (baru) sehingga shaf sebelumnya terisi penuh.

Tidak mengapa orang-orang yang berada di shaf sebelah kanan lebih banyak (daripada shaf sebelah kiri,pen), dan tidak perlu diseimbangkan. Bahkan perintah untuk menyeimbangkan antara kedua shaf tersebut adalah menyalahi sunnah.

Hanya saja tidak boleh membuat shaf kedua sebelum shaf pertama penuh, tidak pula shaf ketiga sebelum shaf kedua penuh dan demikian seterusnya untuk shaf-shaf berikutnya. Sebab ada riwayat shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang memerintahkan hal ini” (Tuhfah al-Ikhwan bi Ajwibah Muhammah Muta’alliqah bi Arkan al-Islam, hlm. 101, cetakan Dar al-Khudhairi)

Dua Faedah Penting

1. Menyeimbangkan Antara Dua Shaf

Telah ditegaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di atas, bahwa menyeimbangkan antara shaf sebelah kanan dan kiri adalah perkara yang menyelisihi sunnah. Tentang hal ini Syaikh Masyhur Hasan alu Salman hafizhahullah berkata dalam kitabnya al-Qoul al-Mubbin fi Akhta’ al-Mushallin, hlm. 222: ”Di antara kesalahan sebagian para imam adalah, mereka memerintahkan para makmum untuk menyamakan shaf tatkala melihat para makmumnya menuju shaf sebelah kanan.”

Beliau juga bertutur, ”Syaikh bin Baz rahimahullah berkata: Ada riwayat shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa shaf sebelah kanan lebih utama dari sebelah kiri, dan tidak disyariatkan untuk berkata kepada orang-orang, ”Seimbangkanlah Shafnya”, dan tidak mengapa shaf sebelah kanan lebih banyak sebagai antusias untuk mendapatkan keutamaan.

Adapun sebuah hadits yang disebutkan oleh sebagian mereka,

”Barangsiapa yang memakmurkan shaf-shaf kiri maka ia mendapatkan dua ganjaran”.

Maka saya tidak mengetahui asal-usulnya[i]. Yang lebih jelas bahwa hadits tersebut adalah palsu, telah dipalsukan (dibuatkan hadits palsu) oleh segelintir orang malas yang tidak antusias untuk mendapatkan shaf sebelah kanan atau tidak berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dan hanya Allah-lah Rabb Maha Pemberi Petunjuk kepada jalan kebenaran.” (al-Fatawa, jilid 1, hlm.61)

2. Menarik Seseorang dari Shaf Terakhir

Tidak disyariatkan bagi makmum yang berdiri sendiri di shaf terakhir untuk menarik seorang yang berada di shaf depannya, sebab hadits yang berkaitan dengan masalah ini adalah lemah.

Syaikh Masyhur berkata: ”Di antara kesalahan mereka (makmum, red), apabila tidak mendapatkan celah atau tempat (kosong) pada shaf, ia langsung menarik seorang dari shaf paling akhir untuk dijadikan shaf bersamanya, padahal hadits-hadits yang menerangkan tentang hal ini tidak sah. Seolah-olah amalan ini dijadikan syariat meskipun tanpa ada dalil yang shahih. Tentu saja hal ini tidak boleh. Akan tetapi yang wajib baginya adalah bergabung bersama shaf sekiranya itu memungkinkan. Jika tidak, maka ia shalat sendiri (dibelakang shaf terakhir) dan shalatnya sah, sebab Allah tidak membebani diri melebihi kemampuannya.”

Beliau melanjutkan: ”Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: ”Permasalahan tentang bolehnya menarik seseorang perlu dikoreksi, sebab hadits yang menerangkan hal ini adalah lemah. Juga, karena dengan menarik (seorang dari depan) akan menyebabkan adanya celah pada shaf, padahal yang disyariatkan adalah menutup celah. Maka itu, yang utama adalah tidak menarik dan hendaknya mencari tempat kosong pada shaf atau berdiri disamping kanan imam. Wallahu a’lam (al-Qoul al-Mubin fi Akhta’ al-Mushallin, hlm. 259-260)

Syaikh Salim bin ’Ied al-Hilali berkata dalam kitabnya Mausu’ah al-Manahi asy-Syar’iyyah, jilid 1, hlm. 462: ”Poin ke-6; apabila seseorang masuk (masjid) dan tidak mendapatkan celah kosong pada shaf untuk ia memasuki, maka ia tidak boleh menarik orang lain dari shaf (depannya), sebab hal ini malah membuka celah pada shaf, sedangkan yang disyariatkan adalah menutup kekosongan dan berbaris dengan rapat dan lurus. Adapun beberapa riwayat yang menerangkan bolehnya menarik (seseorang) dari shaf adalah tidak sah.”

Inilah penjelasan singkat seputar posisi makmum ketika berdiri sendiri dengan tambahan dua faedah pentingnya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Berkenaan dengan beberapa hadits lemah seputar anjuran untuk menarik seseorang dari shaf depan dapat pembaca nikmati pada rubrik koreksi hadits, wallahu a’lam (red).

Sumber: majalah adz-Dzakiirah vol 7 No. 8 Edisi 50 Th. 1430/2009 hlm. 33-34


[i] Komentar saya (Syaikh Masyhur): “Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam as-Sunan, no. 1008. al-Bushiri berkata dalam Mishbah az-Zujajah, jilid 1, hlm. 340: “Sanad hadits ini lemah, lantaran lemahnya Laits bin Abu Sulaim.” Al-Hafizh (Ibnu Hajar, red) berkata dalam al-Fath, jilid 2, hlm. 213: “Sanadnya dikomentari (Ulama)”

Komentar
  1. Muhammad Abid Hadlori mengatakan:

    asslamu’alaikum

    ana mau tanya, di masjid ana ada orang yang sholat, dia menjadi imam dan dua (2) orang teman saya ikut sholat dengan dia, namun posisi ke dua makmum sejajar dengan di (imam tersebut), setelah ana tanyakan dia memberikan sebuah dalil. tolong kalau ada dalil yg shahih beri tahukan ke email saya, jazakalloh….ya

  2. rohyadi mengatakan:

    tentang merapatkan barisan, ada kesalahan fatal, kata “rojula” diartikan semua laki-laki, yang benar “seorang laki-laki”, jadi tidak semua laki-laki merapatkan mata kaki, lebih banyak yang hanya merapatkan bahunya tidak mata kakinya kecuali hanya satu orang dan tidak dan nabi tidak menegur yang lebih banyak….mohon tidak memanipulasi arti bahasa arab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s